Aliran-Aliran Dalam Konsep KeTuhanan  

Posted by Jumhurul Umami

Pendahuluan
Aliran mengenai konsep keTuhanan berbeda dengan perkembangan konsep kepercayaan kepada Tuhan. Kalau perkembangan konsep keTuhanan lebih menekankan pada aspek sejarah dan perubahan yang terjadi dari satu fase ke fase berikutnya, sedangkan dalam aliran tentang konsep keTuhanan tidak dilihat dari aspek sejarah, tetapi hubungan Tuhan dengan dunia dan makhluk-makhluk-Nya, seperti apakah Tuhan jauh atau dekat dari alam? Dan apakah Tuhan setelah menciptakan alam selalu menjaga dan mengaturnya?

Teisme
Teisme berpendapat bahwa alam diciptakan oleh Tuhan yang tidak terbatas, antara Tuhan dan makhluk sangat berbeda. Menurut teisme, Tuhan disamping berada di alam (Imanen), tetapi dia juga jauh dari alam (Transenden). Ciri lain dari teisme menegaskan bahwa Tuhan setelah menciptakan alam, tetap aktif dan memelihara alam. karena itu, dalam teisme mukjizat yang menyalai hukum alam diyakini kebenarannya, begitu juga do’a seorang akan digelar.
Ada beberapa tipe tentang teisme yaitu teisme rasional, dipelopori oleh Rene Descartes dan libnix, teisme ekstensial, seperti Soren Kierkegaard, teisme fenomenologi seperti peter Koestenbaum, teisme empiris, seperti Thomas Reid dan sebagainya. Semua tipe tersebut berbeda pandangan dalam cara mendekati Tuhan.
Teisme juga bisa dibedakan dalam hal kepercayaan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam. Sebagian besar penganut teisme percaya bahwa materi alam adalah nyata, sedangkan yang lain mengatakan tidak nyata, itu hanya ekses dalam pikiran dan idea. Sebagian teis berpendapat bahwa Tuhan menciptakan alam dan selalu ada bersamannya, sementara yang lain yakin bahwa alam harus memiliki suatu permulaan yang berbeda. Perbedaan yang cukup menonjol dalam teisme adalah antara agama Yahudi dan Islam di satu pihak dengan Kristen Ortodok di pihak lain. Dalam keyakinan orang-orang Yahudi dan Islam, Tuhan adalah dzat yang Esa, sedangkan dalam Kristen yakin bahwa Tuhan adalah tiga pribadi (Trinitas).
Dalam agama islam kejelasan tentang Tuhan adalah Esa sekaligus transenden dan imanen. Ayat yang menunjukkan keesaan Tuhan berbunyi “Qul Huwa Allahu Ahad” sedangkan Transendensi Tuhan dicantumkan dalam surat Al-A’raf ayat 54 yang artinya, “Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia berssemayam diatas ‘Arsy”. Imanensi Tuhan dijelaskan dalam surat Qaf ayat 16, yang artinya, “Dan sesungguhnya dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
Lebih lanjut konsep teisme dalam Islam dijelaskan oleh al-Ghozali. Menurutnya Allah adalah zat yang Esa dan pencipta alam serta berperan aktif dalam mengendalaikan alam. Allah menciptakan alam dari tidak ada. Karena itu, menurut al-Ghozali mu’jizat adalah suatu peristiwa yang wajar karena Tuhan bisa mengubah hukum alam yang dianggap tidak bisa berubah. Menurut al-Ghozali, karena maha kuasa dan berkehendak mutlak. Tuhan mampu mengubah segala ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak mutlak-Nya.
Dan tokoh Kristen yang pertama mengemukakan gagasan teisme adalah St. Agustinus. Menurutnya Tuhan ada dengan sendirinya , tidak diciptakan, tidak berubah, abadi, bersifat personal dan maha sempurna, Tuhan adalah kekuatan yang personal, yang terdiri atas tiga person, yaitu Bapak, Anak, Roh Kudus, menurutnya Tuhan menciptakan alam, jauh dari alam , diluar dimensi waktu, tetapi Dia mengendalaikan setiap kejadian dalam alam, karena itu menurut Agustinus, mu’jizat adalah benar-benar ada karena Tuhan selalu mengatur ciptaan-Nya.
Manusia, menurut Agustinus sama dengan alam, tidak abadi. Manusia terdiri atas jasad yang fana dan jiwa yang tidak mati. Setelah kematian jiwa menunggu penyatuan, baik dengan jasad lain maupun dengan keadaan yang lebih tinggi yaitu sorga atau neraka. Ketika dibangkitkan jiwa manusia akan mencapai kesempurnaan. Karena itu, hakikat yang sebenarnya dari manusia adalah jiwa, bukan jasadnya. Jiwa yang bersih akan kembali ke penciptanya yaitu Tuhan.
Ibn maimun seorang filosof Yahudi yang berpaham teisme menyatakan, Tuhan meliputi semua posisi yang penting, tidak berjasad dan tidak berpotensi dan tidak menyerupai makhluk. Dalam hal ini Tuhan sama sekali jauh dari pengetahuan dan pemahaman manusia. Bukti Tuhan memperhatikan nasib makhluknya ialah Dia memberikan ni’mat kepada makhluk bertingkat tingkat.
Kontribusi positif yang terdapat dalam teisme antara lain:
Pertama, hampir semua pemikir, baik ateisme maupun teisme mengakui adanya suatu realitas moral tertinggi yang perlu dianut. Namun, moral ateisme tidak bisa diidentifikasi secara jelas dan diusut asalnya, sedangkan, moral teisme dapat diidentifikasikan dan diusut asalnya, yakni Tuhan.
Kedua, dalam kehidupan yang selalu berubah, teisme menawarkan suatu landasan yang kokoh. Teisme menegakkan standar moral yang universal untuk semua manusia, bahkan untuk semua ras. Standar nilai yang absolut ini mengungguli moral dan tingkah laku yang dibuat oleh manusia yang bersifat relatif dan berubah.
Ketiga, sebagian besar aliran pemikiran menempatkan manusia dalam posisi tertinggi. Teisme meletakkan suatu dasar yang kokoh dalam menghargai manusia, dengan prinsip bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan dan sekaligus wakilnya dimuka bumi. Jadi, dasar ketinggian martabat manusia karena Tuhan menciptakannya lebih tinggi daripada makhluk yang lain.
Keempat, ketika para penganut pendangan nihilisme yang menyimpulkan bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak bernilai, teisme menawarkan suatu tujuan tertinggi bagi kehidupan. Teisme mempertegas keberadaan manusia di dunia, dari mana sedang kemana dan mau kemana. Utnuk itu, teisme menawarkan kehidupan yang abadi setelah mati.

Daisme
Kata deisme berasal dari bahasa latin eus yang berarti Tuhan dari akar kata ini kemudian menjadi dewa, bahkan kata Tuhan sendiri masih dianggap berasal dari deus. Menurut faham deisme, Tuhan berada jauh dari luar alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakan, ia tidak memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaan. Peraturan-peraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna. Dalam paham deisme, Tuhan diibaratkan dengan tukang jam yang sangat ahli, sehingga setelah jam itu selesai tidak membutuhkan si pembuatnya lagi. Jam itu berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah tersusun dengan rapi.
Para penganut deisme sepakat bahwa Tuhan Esa dan jauh dari alam, serta maha sempurna. Mereka juga sepakat bahwa Tuhan tidak melakukan interbensi pada alam lewat kekuatan supernatural. Bagaimanapun, tidak semua penganut deisme setuju tentang keterlibatan Tuhan dalam alam dan kehidupan sesudah mati. Karena itu, atas dasar perbedaan tersebut deisme dapat dibadi atas empat tipe yaitu:
Pertama, Tuhan tidak terlibaat dengan pengaturan alam. Dia menciptakan alam dan memprogramkan perjalanannya, tetapi dia tidak menghiraukan apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi.
Kedua, Tuhan terlibat dengan kejadian-kejadian yang sedang terlangsung dialam, tetapi bukan mengenai perbuatan moral manusia. Manusia memiliki kebebasan utnuk berbuat baik atau buruk, bermoral atau tidak bermoral, dan jujur atau bohong, semuanya itu bukan urusan Tuhan.
Ketiga, Tuhan mengatur alam dan sekaligus memperhatikan perbuatan moral manusia. Sesungguhnya Tuhan ingin menegaskan bahwa manusia harus tunduk pada hukum moral yang telah dia tetapkan dijagad raya. Bagaimanapun, manusia tidak akan hidup sesudah mati. Ketika seseorang mati, maka babak terakhir kehidupannya ditutup.
Keempat, Tuhan mengatur alam dan mengharapkan manusia mematuhi hokum moral yang berasal dari alam. Pandanganaini berpendapat bahwa ada kehidupan setelah mati. Seseorang yang berbuat baik akan dapat pahala dan yang berbuat jahat akan dapat hukuman. Pandangan tersebut berkembang dan banya dianut di Amerika dan Inggris.
Aspek positif dari deisme adalah peranan akal ditonjolkan dalam deisme untuk memahami masalah-masalah agama secara lebih kritis. Kendati deime memberikan kotribusi yang positif terhadap pemikiran keagamaan, namun disisi lain deisme tidak luput dari kritikan dan kelemahan.

PANTEISME

Panteisme terdiri dari tiga kata, yaitu Pan, berarti seluruh, Theo, berarti Tuhan, dan Ism (Isme), berarti paham. Jadi, Pantheism atau Panteisme adalah Paham bahwa seluruhnya Tuhan.
Panteisme berpendapat bahwa seluruh alam ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah seluruh alam. Tuhan dalam panteisme adalah satu dan sangat dekat dengan alam (imanen), hanya Tuhan mempunyai penampakan-penampakan atau cara berada tuhan di alam. Tuhan dalam panteisme, disamping Esa juga Maha Besar, dan tidak berubah. Alam indrawi adalah ilusi atau khayal belaka karena selalu berubah. Adapun, yang wujud hakiki hanya satu, yakni Tuhan.
Dalam Islam paham ini dikenal dengan nama Wahdat al- wujud (kesatuan wujud) yang dikemukakan oleh al-‘Arabi. Antara paham Wahdat al- wujud dan Panteisme, disamping memiliki persamaan juga ada perbedaan. Dalam Panteisme alam adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam, sedangkan dalam Wahdat al- wujud alam bukan Tuhan, tetapi bagian dari Tuhan.
Konsep Panteisme yang paling kuno terdapat dalam agama Hindu. Agama Hindu hanya mengakui satu realitas yang tertinggi, yaitu Brahman. Brahman adalah Tuhan yang tidak dapat dilihat dengan mata, diraba dengan tangan, didengar dengan telinga, dan diucapkan dengan lidah. Filosof modern yang mempelopori Panteisme adalah Benedict de Spinoza, dan beberapa tokoh mutaakhir, seperti Victor Ferkiss dan Mary Long.
Letak perbedaan antara Teisme dan Panteisme. Dalam Teisme Tuhan adalah zat yang personal yang menciptakan alam, maka Tuhan dengan alam tidak sama, sebab Tuhan adalah pencipta dan alam adalah hasil ciptaan-Nya, tetapi Panteisme menganggap Tuhan adalah kesatuan umum (impersonal), yang mengungkapkan dirinya dalam alam. Dalam Panteisme segala sesuatu adalah Tuhan, tidak satu pun yang tidak tercakup didalam-Nya dan tidak satu pun yang bisa berada tanpa Tuhan.
Sebagaimana Teisme dan Deisme, Panteisme juga memiliki beberapa kelebihan dan sekaligus kekurangan. Kelebihannya adalah:

Pertama, Panteisme diakui menyumbangkan suatu pemikiran yang menyeluruh (holistic) tentang sesuatu, tidak hanya bagian tertentu saja.
Kedua, Panteisme menekankan imanensi Tuhan, sehingga seseorang selalu sadar bahwa Tuhan selalu dekat dengan dirinya. Dengan demikian, dia mampu mengontrol diri dan berusaha berbuat sesuai dengan ketentuan Tuhan.
Ketiga, Panteisme menegaskan bahwa seseorang tidak mampu memberi batasan terhadap Tuhan dengan bahasa manusia yang terbatas. Jika Tuhan tidak terbatas dan trasenden, semua pembatasan / pengertian harus ditiadakan karena yang tidak terbatas tidak bisa ditangkap oleh sesuatu yang terbatas. Oleh karena, keberadaan Tuhan dalam alam adalah sekaligus untuk memudahkan pemahaman tentang Tuhan.

Kelemahan dari konsep Panteisme ini adalah:
Pertama, Menurut panteisme yang radikal, manusia adalah Tuhan, sedangkan Tuhan dalam pandangan ini tidak berubah dan abadi. Kenyataan manusia berubah dan tidak abadi. Karena itu, bagaimana manusia menjadi Tuhan, ketika manusia berubah, sedangkan Tuhan tidak.
Kedua, Panteisme mengatakan bahwa alam ini adalah maya bukan hakiki. Kalau ini dijadikan pegangan, maka bagaimana halnya dengan lampu lalu lintas, apakah lampu itu maya atau benar-benar real. Kalau berpegang pada Panteisme lampu itu adalah fantasi dan maya, begitu juga mobil-mobil.
Ketiga, Jika Tuhan adalah alam dan alam adalah Tuhan sebagaimana ditegaskan oleh panteisme, maka tidak ada konsep kejahatan atau tidak ada kemutlakan kejahatan dan kebaikan.
Ada empat kemungkinan mengenai kejahatan dan kebaikan:
1. Jika Tuhan sama sekali baik, ,tentu kejahatan berada diluar Tuhan, tetapi hal ini mustahil karena tidak ada yang diluar Tuhan dan Tuhan adalah semuanya.
2. Jika Tuhan jahat, tentu kebaikan berada diluar Tuhan. Ini juga mustahil karena tidak ada yang diluar Tuhan dan Tuhan adalah semuanya.
3. Tuhan adalah baik dan sekaligus jahat. Ini adalah kerancuan berpikir karena ada dua hal yang bertentangan dalam waktu yang sama
4. Kebaikan dan kejahatan adalah ilusi. Kalau itu hanya ilusi, bagaimana seseorang membedakan antara kesedihan dan kegembiraan, antara memuji dan mencaci. Karena itu, moralitas dalam panteime tidak bermakna dan pondasi moral dalam panteisme tidak ada.

PANENTEISME
Panteisme berarti semua adalah Tuhan, tetapi Panenteisme berarti semua dalam Tuhan. Ada beberapa perbedaan antara Teisme klasik dan Panenteisme. Dalam Teisme Tuhan adalah pencipta dari tidak ada, berkuasa atas alam, tidak tergantung pada alam, tidak berubah, dan maha sempurna. Sedangkan dalam Panenteisme, Tuhan adalah pengatur dari materi yang sudah ada, bekerja sama dengan alam, tergantung pada alam, berubah, dan menuju kesempurnaan.
Salah seorang pelopor Panenteisme adalah Alfred North Whitehead, dia seorang filosof dan ahli matematika dari Inggris. Menurut Whitehead, Tuhan bisa diklasifikasikan dalam tiga konsep yaitu:
1. Konsep Asia Timur tentang tatanan yang imperasonal yang sejalan dengan alam. Tatanan ini mengatur sendiri dalam alam; alam tidak tunduk pada suatu aturan. Konsep ini menegaskan imanensi Tuhan.
2. Konsep Semit tentang suatu zat yang personal yang eksistensinya adalah realitas metafisik yang tertinggi, absolut, dan mengatur alam.
3. Konsep Panteistik, yang sudah tergambar dalam konsep Semit. Namun, panteisme berbeda dalam memandang alam. Alam bagian yang terpisah dari Tuhan dan bersifat maya. Realitas hanya Tuhan dan dalam beberapa hal, alam menampakkan diri Tuhan.
Whitehead menolak semua pandangan tersebut. Menurutnya, sebagian besar Gereja-gereja Kristen, adalah munafik karena akal dimodifikasi agar menyatakan kesatuan yang personal, disisi lain ada desakan akan imanensi.
Sebagaimana konsep yang terdahulu, Panenteisme juga tidak luput dari kritikan dari penganut Teisme, antara lain adalah :
1. Ide tentang satu Tuhan yang sekaligus terbatas dan tidak terbatas, mungkin dan tidak mungkin, absolut dan relatif adalah kerancuan berpikir.
2. Ide tentang Tuhan sebagai wujud yang disebabkan oleh diri sendiri menimbulkan problem. Sulit untuk mengakui suatu wujud mampu menyebabkan dirinya sendiri.
3. Sulit untuk dimengerti bagaimana segala sesuatu yang relatif dan selalu berubah, bisa diketahui kebenarannya. Mampukah seseorang mengetahui bahwa sesuatu berubah, tanpa adanya standar yang tidak berubah yang digunakan untuk mengukur perubahan?
Para pendukung Panenteisme menghadapi suatu dilemma. Mereka meyakini Tuhan meliputi semua jagat raya dalam waktu yang sama. Namun, mereka juga meyakini Tuhan terbatas dalam waktu dan ruang. Sesuatu yang terbatas oleh waktu dan ruang tidak mampu berfikir/mengetahui melebihi kecepatan cahaya. Karena jagat raya terlalu luas, maka seseorang yang ingin mengitarinya perlu waktu bertahun-tahun dengan kecepatan 186.000 mil per detik. Oleh sebab itu, mustahil Tuhan yang terbatas oleh waktu dan ruang mampu meliputi semua jagat raya.

Penutup
Dari semua pandangan tentang teisme, deisme, panteisme, dan panenteisme, tidak dapat memuaskan para filosof, dan ketidakpuasan mereka atas berbagai pandangan diatas adalah wajar karena hal itu adalah pernainan logika dan katagori-katagori akal. Lagi pula ruang metafisika terbuka untuk mengadakan spekulasi sebanyak mungkin dan sedalam- dalamnya. Karena itu, menurut penganut agama penjelasan yang sangat memuaskan tentang Tuhan bukan berasal dari akal, tetapi dari wahyu. Wahyulah yang mendatangkan ketenangan dan sekaligus kejelasan tentang Tuhan. Akal hanya sebagai alat bantu untuk memahami wahyu tersebut, bukan sebagai sumber utama.

This entry was posted on Friday, February 27, 2009 at 11:35 AM . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 comments

Post a Comment